.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Maret 22, 2015

Strategi Kebudayaan Pendidikan Kita


BACA SELENGKAPNYA>>>

Maret 10, 2015

Revitalisasi Lumbung Desa

Oleh Agus Wibowo,M.Pd
Dipublikasikan di Harian Sinar Harapan, Edisi Senin, 9 Maret 2015

Kenaikan harga beras medium yang biasanya dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah, dari Rp 8.200 per kilogram (kg) menjadi Rp 12.000 per kg, meresahkan masyarakat miskin. Apalagi, kenaikan itu terjadi ketika sebagian besar petani sedang memasuki masa panen. Jika mengacu teori Adam Smith (1776), mestinya ketersediaan beras di pasaran melimpah dengan harga murah pula. Namun, nyatanya tidak demikian. Bisa diprediksi lebih dari 15,5 juta rumah tangga miskin menurun daya belinya. Mereka tentu akan berpikir dua kali untuk membeli harga beras semahal itu. Bisa jadi rakyat miskin akan kembali mengonsumsi “nasi aking.” 

Benar kata Faisal Basri (2014). Masalah perberasan seperti ritual tahunan yang tak kunjung tuntas dan melelahkan. Dengan demikian, masalah ini akan berulang setiap tahun. Kenaikan harga beras saat ini paling tidak disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya permainan dari mafia perberasan sebagaimana disebut Menteri Perdagangan Rachmat Gobel (2015). Kedua, kenaikan harga beras lantaran keterlambatan pemerintah mendistribusikan beras untuk rakyat miskin (raskin). Namun, hal yang utama ialah kelemahan pemerintah dalam pengelolaan perberasan nasional.

Langkah mendesak, pemerintah harus segera memberantas mafia perberasan. Pemerintah, tulis Tulus Abadi (2015), tidak boleh lemah terhadap mafia perberasan. Pemerintah perlu melibatkan banyak pihak, seperti TNI, Polri, masyarakat konsumen, dan pihak-pihak yang paham tentang investigasi mafia perberasan.

Lumbung Desa
Tradisi rutin ketika harga beras melambung, pemerintah akan melakukan operasi pasar, peningkatan kuota raskin, merevitalisasi peran Badan Urusan Logistik (Bulog), dan mengarusutamakan program swasembada beras. Langkah ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi yang terjadi hanya tambal sulam.
Langkah strategis lain yang perlu dilakukan pemerintah adalah menumbuhkan kembali dan merevitalisasi peran lumbung pangan atau lumbung desa di setiap daerah.  Lumbung desa—yang dalam undang-undang (UU) disebut lumbung pangan—sebenarnya juga sudah diamanatkan dalam UU No 18/2012 tentang Pangan. Menurut UU itu, pemerintah pusat dan daerah harus memfasilitasi pengembangan cadangan pangan masyarakat sesuai kearifan lokal. Pemerintah setahun lalu juga sudah melakukan program pengembangan lumbung pangan desa sebanyak 652 kelompok. 

Lumbung desa atau biasa disebut lumbung paceklik merupakan kearifan lokal warisan nenek moyang bangsa ini. Lumbung desa ini, selain berfungsi sebagai cadangan pangan di saat paceklik, juga mempunyai nilai-nilai kegotongroyongan yang tinggi. Nenek moyang kita dahulu menyadari, hidup ini harus dibangun dengan berwawasan hari esok. Jadi, mereka harus menabung/menyisihkan, walaupun hanya berbentuk gabah. Ajaran filosofis lain melalui lumbung desa adalah nilai-nilai berhemat. Nenek moyang bersama-sama akan menyisihkan hasil panennya sebagian dalam bentuk gabah sebagai cadangan pangan mereka saat paceklik.

Sayangnya, budaya luhur warisan nenek moyang ini sudah luntur tertelan jaman. Jarang sekali petani bahkan pemerintah desa yang memikirkan pentingnya lumbung desa sebagai cadangan pangan saat paceklik. Lumbung desa kalah bersaing dengan budaya kredit bank yang semakin menguasai keadaan. Petani di saat paceklik akan meminjam uang dari bank, kemudian akan mengembalikannya pada waktu panen dengan tambahan bunga 1-2,5 persen.

Lumbung desa memang masih dilestarikan oleh salah satu masyarakat di daerah Banten yaitu masyarakat suku Baduy. Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Kultur adat istiadat suku Baduy masih sangat kental, termasuk dalam pengaturan kapan waktu tanam, kapan waktu panen, dan sebagainya. Hasil panen tersebut disimpan di lumbung padi untuk keperluan hidup sehari-hari sampai panen berikutnya. Hal ini mencerminkan bahwa dengan kesederhanaan dalam bercocok tanam, masyarakat Baduy tetap memiliki persediaan pangan sepanjang tahun. Masyarakat adat suku Baduy memiliki ciri khas berkaitan dengan lumbung padi di mana lokasi lumbung padi yang terpisah dengan permukiman.

Manajemen Efektif
Agar berfungsi maksimal, lumbung desa perlu dikelola, baik dari sisi kelembagaan maupun dari manajemennya. Kelembagaan lumbung desa diarahkan agar dalam masyarakat terjadi perubahan perilaku, pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang muaranya pada tingkat partisipasi dalam pelaksanaan pembangunan, khususnya ketahanan pangan pedesaan.

Dari sisi manajemen, bantuan dan dukungan pemerintah sangat diperlukan. Pemerintah, tulis Posman Sibuea (2011), perlu memberikan pelatihan penguasaan teknologi pascapanen padi dan pelatihan manajemen usaha tani. Langkah ini tak hanya menjamin keberadaan lumbung desa, tetapi juga akan menggerakkan perkembangan ekonomi pedesaan. Jika manajemennya sudah berjalan efektif, ke depan peran lumbung pangan tidak hanya sebagai tempat penyimpanan saat over produksi, tetapi juga sebagai sarana penundaan penjualan untuk sementara waktu sampai harga ada pada tingkat yang memberi keuntungan petani sekaligus mematikan mata rantai pengijon. Singkatnya, akan ada metamorfosis lumbung desa menjadi lumbung pangan modern yang langsung dikelola petani, seperti yang sudah dilaksanakan masyarakat di Sumatera Selatan.

Agar tidak ditinggalkan seperti di masa lalu,  lumbung desa, tulis Hadi Santoso (2011), harus dimodernisasi, baik dalam konsep maupun fasilitas terutama di desa-desa yang rawan pangan. Lumbung modern ini perlu dilengkapi  alat pengering, lantai jemur, dan manajemen baru yang bisa disinergikan dengan koperasi unit desa (KUD). Karena manajemen yang kuno dan tidak efektif, selama ini beras di lumbung desa lebih sering habis dimakan tikus dan dengan kualitas rendah. 

Guna menopang keberadaan lumbung desa, perlu digalakkan lumbung hidup di pekarangan rumah. Masyarakat desa dianjurkan menanam tanaman yang memiliki kandungan kalori, misalnya umbi-umbian. Optimalisasi lahan pekarangan paling tidak menyangkut aspek keindahan dan fungsi strategis. Artinya, selain menambah keindahan dan keasrian tempat tinggal, juga dapat digunakan sebagai bahan pangan tambahan ketika kondisi darurat. Semoga. Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.



BACA SELENGKAPNYA>>>

Maret 05, 2015

Ekonomi Kreatif Entaskan Pengangguran

Istilah ekonomi kreatif untuk pertamakali diperkenalkan oleh ekonom John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas (2001). Tak dinyana, gagasan itu mampu menginspirasi dan mendorong lahirnya aliran baru dalam ekonomi modern. Ekonomi kreatif merupakan konsep yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumberdaya manusia sebagai faktor produksi yang utama. Konsep ini akan efektif jika didukung dengan keberadaan industri kreatif yang menjadi pengejawantahannya.
Sektor ekonomi kreatif dianggap paling menjanjikan dewasa ini. Data yang dirilis PBB setahun lalu menyebutkan bahwa ekonomi kreatif berada pada sektor paling dinamis dalam perekonomian dunia dan menawarkan kesempatan pertumbuhan yang tinggi di negara-negara berkembang. Lebih dari itu, sektor ekonomi kreatif dapat berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran, terutama bagi negara-negara berkembang. Sekitar 30 negara telah meraup keuntungan dari ekonomi kreatif dan lebih dari 100 negara telah memberikan perhatian serius dengan menggunakan aset warisan budaya mereka sebagai modal dalam perekonomian.
Sementara menurut data yang dirilis UNCTAD (dalam Somasir, 2015), diketahui nilai ekonomi kreatif dunia lebih dari 375,84 miliar dollar AS pada 2002 dan meningkat cukup signifikan menjadi 842, 2 miliar dollar AS pada 2011 dengan pertumbuhan 7,35 persen per tahun pada 2003-2011. Berdasarkan data tersebut Howkins (2011) bahkan mengestimasi nilai ekonomi kreatif dunia mencapai 2,2 triliun dollar AS pada 2020 dengan pertumbuhan 5 persen per tahun.
Di Indonesia, sektor ekonomi kreatif diyakini menjadi alternatif pengentasan pengurangan. Seperti kita ketahui, angka pengangguran di Indonesia setiap tahun semakin meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2014) menyebut sebanyak 9,5 persen atau 688,660 orang dari total pengangguran secara umum merupakan kalangan terdidik. Sebagian besar mereka bahkan merupakan lulusan terbaik dari berbagai perguruan tinggi bergengsi negeri ini.
Memang banyak sebab yang melatarbelakangi tingginya angka pengangguran bergelar. Seperti ketidaksesuaian posisi pekerjaan yang ada dengan idealisme, kuota kursi pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak sebanding dengan animo lulusan setiap tahun, dan mentalitas “priyayi” yang masih mendominasi alam bawah sadar kaum terdidik. Sebagian besar pengangguran bergelar itu, tulis Agus Wibowo (2011), melulu hanya mengejar posisi kantoran dan abdi negara, tanpa mau memberdayakan potensi kreatif sebagai modal berusaha. Ketika negara tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan, sementara sektor dunia usaha tidak mampu menampung, angka pengangguran yang tinggi ini hanya akan menimbulkan problem sosial baru. Kaum terdidik ini, bisa saja mempergunakan keahliannya untuk hal-hal negatif.
Tingginya angka pengangguran bergelar, sebenarnya bisa menjadi modal sekaligus bonus berharga jika diarahkan pada sektor usaha ekonomi kreatif. Menurut pendapat banyak ekonom, sektor ekonomi kreatif merupakan peluang usaha yang paling strategis dan cepat dilaksanakan di Indonesia saat ini. Itu karena ekonomi kreatif, tak hanya mengukur luaran ekonomi, tetapi mencakup empat bentuk modal: sosial budaya, manusia, struktural atau institusional, dan kreativitas. Maka tidak berlebihan jika ekonomi kreatif dapat mendorong peningkatan pendapatan sebuah generasi, peningkatan lapangan kerja, dan  peningkatan ekspor bermodalkan keanekaragaman budaya (Omas B. Somasir, 2015).
Sejak tahun 2011 hingga 2013 ekonomi kreatif sudah menyumbang 7 persen dengan total nilai Rp 641,8 triliun (2014) dan pertumbuhan 5,74 persen pada 2013. Jumlah tenaga kerja yang terserap dari sektor ekonomi kreatif ini lebih dari 11,5 juta orang dengan pertumbuhan rata-rata sepanjang tahun 2013 sebesar 1,1 persen.

Modal Melimpah
Mengarusutamakan sektor ekonomi kreatif juga tidak terlalu berat di negeri ini. Pasalnya, modal ekonomi kreatif melimpah-ruah. Seperti keanekaragaman budaya, suku bangsa, jumlah penduduk yang memadai, lokasi geografis yang sangat strategis, hamparan  laut tropis yang amat kaya dengan sumberdaya  alam, dan sebagainya. Dengan modal melimpah itu, sebenarnya ekonomi kreatif di Indonesia tidak akan pernah habis atau berkurang. Setiap wilayah di negeri ini bahkan dapat berkembang tanpa mengorbankan sumberdaya alam sedikitpun.
Menurut data Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bapenas, 2012), Indonesia saat ini tengah memanen bonus dari aspek demografi. Indonesia saat ini mengalami bonus demografi ini dikarenakan menurunnya tingkat kelahira yang dapat berupa peningkatan tabungan keluarga, investasi, produktivitas pekerja, dan akselerasi pertumbuhan ekonomi. Pada tahap ini proporsi penduduk usia kerja secara khusus mendominasi struktur umur penduduk.
Bonus demografi ini, mestinya disiasati secara cerdas oleh pemerintah dengan terus mengoptimalkan sektor ekonomi kreatif. Upaya pemerintah yang sejak tahun 2006 membuka kran lebar-lebar bagi sektor ekonomi kreatif perlu lebih ditingkatkan lagi. Kemudahan akses bantuan permodalan, pendidikan, pelatihan, dan regulasi perdagangan yang menguntungkan bagi pelaku ekonomi kreatif sangat diperlukan.
Sudah saatnya problem pengangguran di atasi dengan mengoptimalkan sektor ekonomi kreatif. Para pengangguran terdidik perlu dilatih untuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya melalui ekonomi kreatif. Aneka lomba yang mengakomodir munculnya kreativitas dari sektor ekonomi kreatif perlu lebih diperbanyak. Seperti baru-baru ini kementrian pemuda dan olahraga menjaring pemuda-pemudi pelopor di bidang ekonomi kreatif dari berbagai penjuru tanah air. Hasilnya, teridentifikasi sumber-sumber ekonomi kreatif yang masih mampu menampung tenaga kerja. Seperti usaha ekonomi kreatif “Thiwul Mbok Sum” daerah Mangunan, Dlingo, Bantul, yang digawangi para lulusan terbaik Universitas Gajah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta. Mereka tidak menyerah dengan keadaan, dan merintis usaha makanan khas “Tiwul” dengan bahan baku yang diwilayahnya.
Andai saja ekonomi kreatif ini dapat efektif di setiap wilayah, maka tidak akan terjadi proses urbanisasi—karena motif utama kegiatan urbanisasi adalah pemenuhan kebutuhan ekonomi. Penduduk di setiap wilayah, melalui ekonomi kreatif, tidak perlu berbondong-bondong pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Mereka dapat menjual hasil kreativitasnya melalui dunia online/daring—yang terkoneksi hampir di berbagai penjuru dunia. Semoga. 
Oleh Agus Wibowo, M.Pd,  Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta.  Dipublikasikan Harian Koran Jakarta, Edisi Rabu, 4 Maret 2015

BACA SELENGKAPNYA>>>

November 25, 2013

Guru Sejati dan Pendidikan BangsaGuru Sejati dan Pendidikan Bangsa

Oleh  Agus Wibowo
[Penulis Buku Menjadi Guru Berkarakter; Magister Pendidikan  Universitas Negeri Yogyakarta]

Dipublikasikan di Harian Media Indonesia, Edisi Senin, 25 Nopember 2013
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) kembali merayakan hari ulang tahunnya. Peringatan kali ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan refleksi sekaligus timbang ulang: apakah para guru sudah mendidik bangsa ini dengan baik? Apakah guru sudah menjadi figur tauladan bagi anak didiknya? Refleksi dan timbang ulang menjadi penting, sebagai sarana memperbaiki diri dan profesionalisme guru.

Saat ini tugas guru tidak ringan. Tugas yang berat itu sebenarnya akan terasa ringan, jika para guru mau belajar dari sejarah para guru bangsa. Semisal Ki Hadjar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, Ibu Muslimah, Raden Ajeng Kartini, Romo Mangun, Dewi Sartika, Abdurrahman Wahid (Gus Dur),  dan sebagainya telah memberikan contoh bagaimana menjadi guru yang baik. Para guru bangsa itu, mampu menunjukkan bagaimana berperan tidak saja sebagai guru profesional tetapi juga sosok yang unggul kepribadian, bahkan mampu mengispirasi anak didik untuk meneruskan perjuangannya. Pendek kata, para guru bangsa itu tidak saja menjadi pendidik profesional, tetapi juga pembentuk karakter anak asuhnya, menjadi pribadi dengan keluhuran budi, nasionalisme tinggi dan para pejuang tangguh yang rela mati demi bangsanya.

Laksana Mursyid
Beban kurikulum dan aneka kebijakan pendidikan mutakhir, kenyataannya lebih sering membuat guru lupa akan tugas. Pendidikan kita, masih menyisakan problem berat yang menindas dan membelenggu guru. Bongkar pasang kurikulum dan kebijakan di satu sisi memang positif. Tetapi di sisi lain guru yang menjadi korbannya. Guru lebih sering menjadi kambing hitam; yang jika berhasil tidak dipuji, tetapi jika gagal selalu dicaci maki atau disalahkan. Tawuran pelajar, beredarnya video mesum yang dilakoni oknum anak didik, dan berbagai aksi anarkhisme lainnya, selalu dikaitkan dengan kegagalan guru.

Fenomena sebagaimana diuraikan, ada benarnya tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ketika para guru hanya kejar target, mengajar tidak dengan “hati,” serta menjadi “kepanjangan tangan” penguasa, maka wajar jika mereka dianggap biang keladi kegagalan pendidikan. Namun, ketika guru sudah mengajar dengan profesional dan memberikan kesempatan seluas-luasnya anak didik untuk berimajinasi, maka salah besar jika mereka disebut sebagai biang keladi kegagalan pendidikan itu.

Sebelum anak didik menjadi korban, maka tidak ada pilihan selain guru mau berubah. Sosok berkarakter dan berkepribadian luhur, kata Furqon Hidayatullah (2010), adalah kartu sakti meraih keberhasilan mengajar. Guru sejati itu, tulis Furqon Hidayatullah, memiliki komitmen yang ditandai dengan ketajaman visi, rasa memiliki, dan bertanggungjawab terhadap anak didiknya. Ketika ada anak didik yang bermasalah, dia menjadi orang pertama yang bertanggungjawab. Selama ini, guru lebih sering menghindar bahkan lebih sering mencari “selamat” jika anak didik bermasalah. Akibatnya, semua kesalahan ditumpahkan pada anak didik. Ini jelas model pendidikan yang keliru. Bukankah dengan terus menimpakan kesalahan, anak didik akan trauma secara psikologis? Ketika guru tampil sebagai sosok yang bertanggungjawab, maka anak didik akan dengan penuh kesadaran memperbaiki diri; bahkan akan menjadikan guru sosok penyelamat yang ucapannya didengar dan dipatuhi, sementara lakunya ditauladani.

Kompetensi adalah aspek selanjutnya yang wajib dimiliki guru. Bagaimana jadinya jika anak didik diajar oleh guru tidak memiliki kompetensi? Tentu saja anak didik akan terombang-ambing tanpa arah yang jelas, serta gagal dalam proses pendidikan. Guru yang kompeten ini ditandai dengan keahlian di bidangnya, menjiwai profesi yang dimiliki, memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Ketika guru sudah memiliki kompetensi, maka salah satu prasyarat keberhasilan pendidikan di kelas sudah terpenuhi.

Kegiatan pembelajaran di kelas bukan pekerjaan ringan. Oleh karena itu guru dituntut mencurahkan atau mengerahkan seluruh usaha dan kesungguhan, potensi yang dimiliki sampai akhirnya tujuan pembelajaran dikelas pada khususnya, dan tujuan pendidikan di sekolah pada umumnya tercapai. Selanjutnya guru harus selalu konsisten dalam tugasnya. Konsisten ini melakukan tugas mendidik dengan istiqomah, ajeg, fokus, sabar, dan ulet, serta melakukan perbaikan yang terus menerus.

Guru hendaknya senantiasa mencontohkan kesederhanaan. Ketika anak didik cenderung hedonis dan konsumtif, guru justru harus tampil sebagai sosok yang sederhana. Sederhana ini bukan bermakna miskin, tetapi mampu mengaktualisasikan segala sesuatu secara efektif dan efisien. Adapun yang utama, guru harus mampu berinteraksi secara dinamis dalam jalinan emosional dengan anak didiknya. Hal ini meniscayakan guru untuk membantu, melayani dan memenuhi kebutuhan peserta didik agar potensi mereka dapat diberdayakan secara optimal.

Di tahun-tahun politik seperti sekarang ini, godaan dan jeratan politik praktis semakin tidak terelakkan. Guru laksana memakan buah simalakama; ketika larut di dalam politi praktis, maka nasib pendidikan anak didik tergadaikan. Sementara jika tidak ambil bagian dalam kancah politik, karir birokrasi mereka terancam berhenti di tengah jalan. Fenomena sebagaimana disebutkan, menuntut guru memilih solusi bijak. Artinya, ketika larut dalam kancah politik praktis, guru harus tetap memiliki harga tawar; nasib pendidikan anak didik harus tetap diutamakan.

Kalaupun terpaksa menjadi tim sukses kandidat legislatif, presiden, bupati/walikota, tugas mereka mendidik dan mencerahkan anak bangsa harus tetap diutamakan. Ketika kandidat yang mereka usung sukses meraih tampuk kekuasaan, maka para guru hendaknya mempergunakan dukungan politik untuk memajukan pendidikan anak didik. Mereka juga harus mampu mempengaruhi kandidat yang diusung untuk memberikan perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Menurut hemat penulis, langkah ini cukup elegan demi kemajuan pendidikan anak didik kita.

Guru sejati itu laksana mursyid dalam dunia thariqah atau tasawuf. Dia dengan kesadaran dan keikhlasan hati, membimbing, memandu, dan mengarahkan anak didik dalam berproses menggapai keberhasilan pendidikan. Guru akan sangat terluka, jika anak didiknya bermasalah. Guru tidak lagi menganggap anak didik laksana tempat“observasi” dan objek kurikulum, tetapi sebuah permata berharga yang harus dijaga dan dirawatnya baik-baik. Ucapan guru selalu menjadi doa mulia bagi anak didik menjalani hari-hari. Guru memberikan kesejukan, karena memberikan solusi jitu atas persoalan yang dialami anak didiknya. Karena cinta sejati telah melandasi relasi guru dan dan anak didik, maka kehadiran sang guru akan senantiasa dinanti-nantikan. 

Membenahi Karakter
Menurut Agus Wibowo (2010), tugas dan tanggung jawab guru amat berat. Oleh karena itu model penyeleksian guru hendaknya tidak asal, lebih ketat dan transparan—di samping mengedepankan akuntabilitas. Menurut agama Islam, sosok seorang guru adalah orang yang punya komitmen dengan landasan agamanya. Maka, seorang guru hendaknya berbicara yang baik dan benar, amanah, memiliki semangat untuk belajar atau mencari ilmu, dan keluasab berfikir yang senantiasa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Yang paling penting dimiliki seorang guru adalah keikhlasannya menerima kritik dan saran entah sifatnya konstruktif maupun tidak. Pasalnya, banyak guru yang alergi terhadap kritik; sehingga kritik dianggap sebagai wujud perlawanan, ketidakhormatan, bahkan prilaku “menjongkeng” wibwa sang guru. Sikap demikian jelas tidak layak dimiliki seorang guru. Mestinya, kritik atau saran justru dimanfaatkan bagi guru untuk memperbaiki kualitas pribadi maupun kualitas profesionalisme bidang tugasnya.

Kaitannya dengan internalisasi pendidikan karakter, Muhammad AR (2003) mensyaratkan seorang guru terlebih dahulu meneladani pribadi Nabi Muhammad Saw. Rasulullah, tulis Muhammad AR, adalah seorang guru yang agung, yang diutus semata-mata untuk memperbaiki akhlak atau karakter umat, yang sudah terbuti melahirkan murid-murid yang luhur budi pekertinya nyaris menyamai rasulullah sendiri. Para murid rasulullah itu seperti Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Setelah guru memiliki karakter-karakter mulia sebagaimana diuraikan, lantas bagaimana strategi agar guru juga memiliki pengetahuan mengenai pembelajaran pendidikan karakter? Terkait dengan keterampilan bagaimana mengajarkan pendidikan karakter, guru memang harus dilatih, dididik atau training. Dengan demikian, sebelum guru melaksanakan pembelajaran di kelas, terlebih dahulu mereka dilatih, terutama yang terkait dengan penanaman nilai-nilai tersebut. Namun yang paling penting dan utama, adalah terbukanya kesadaran dari para guru untuk mau mendalami, mempraktikkan, dan menjadikan karakter mulia sebagai itu sebagai karakter hidup. Tanpa adanya kesadaran, meskipun sudah tatar atau dilatih berkali-kali, entah melalui penataran atau pelatihan yang melibatkan tentor-tentor ternama, tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Pada akhirnya, guru sejati adalah harapan bangsa ini. Mereka diharapkan mampu memajukan pendidikan bangsa. Mereka bukan pribadi yang semaunya dalam menjalankan tugas. Guru sejati juga bukan sebatas memenuhi tuntutan profesi mengajar; perkara hasilnya tidak optimal, itu bukan urusan. Mengulang pendapat penulis, guru sejati itu laksana mursyid. Ia akan selalu merawat dan membenahi akhlak anak didik. Ia akan mengajar dengan cinta yang mengalirkan kelembutan, kasih sayang, dan keadilan. Lakunya diikuti, sementara ucapannya ditaati.  Wahai guruku, terpujilah engkau! Selamat Hari Guru.

BACA SELENGKAPNYA>>>

Oktober 28, 2013

Pendidikan dan Kepemimpinan Bangsa


BACA SELENGKAPNYA>>>